Antara ISPA Gubri dan Puteri Mukhlis
Kamis, 08-08-2019 - 09:41:53 WIB

Oleh: Novrizon Burman

SIMAKLAH pernyataan ini: "Dari laporan yang saya terima, sudah 700 orang terkena ISPA. Tentu sekarang angka itu sudah lebih karena kabut asap masih terjadi. Saya sekarang juga terserang ISPA, dengan batuk-batuk," ujar Gubernur Riau, Drs H Syamsuar MSi, saat menghadiri acara pelantikan pengurus Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (Hipgabi) Provinsi Riau, Ahad (4/8/2019), di Gedung Daerah Ruang Serindit.

Dengan sedikit berseloroh, Syamsuar menyatakan sebelum masyarakat banyak yang terjangkit penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), nampaknya Tuhan memberikannya dulu pada Gubernurnya. "Sebelum rakyatnya, Gubernur dulu yang terjangkit," sebut Syamsuar dengan disambut riuh hadirin, sembari mengakui juga kalau tenggorokannya saat ini sedang gatal.

Tapi bagaimana mungkin Mukhlis, seorang wartawan lokal di Provinsi Riau, pada 10 September 2015 bisa berseloroh mendapati kenyataan seperti ini: Muhanum Anggriawati, yang tidak lain adalah puteri tercintanya, yang masih duduk di bangku SD di Pekanbaru, menghembuskan napas terakhir karena pekatnya kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda daerah ini?

Dalam sebuah persidangan, warga Kecamatan Tenayanraya, Pekanbaru, ini secara tegas menyatakan, anaknya sakit dan meninggal dunia karena kabut asap. Hal itu diperolehnya setelah membawa Hanum ke Puskesmas terdekat. "Sewaktu di puskesmas itu, petugas di sana menyatakan anak saya sakit karena kabut asap. Karena sakitnya semakin bertambah, saya bawa ke Rumah Sakit Arifin Ahmad," kata Mukhlis, di persidangan, kala itu.

Akankah ada “Hanum” yang lain menyusul kepungan kabut asap yang kian pekat melanda Riau, dan dengan jangkauan yang semakin meluas? Masih perlukah “tumbal-tumbal” baru, yaitu mereka yang seakan dikorbankan –terlepas disengaja atau tidak disengaja— oleh perbuatan yang sejatinya mungkin tidak pernah mereka lakukan? Bahkan, mungkin terpikir pun tidak?

Sebagaimana diketahui, kabut asap yang melanda Riau dipicu oleh karhutla. Dan karhutla, mengutip pejabat yang memiliki otoritas tentang itu, mayoritas disebabkan oleh ulah manusia.
 
Kecemasan itu terasa perlu diapungkan, karena fakta yang terjadi belakangan sudah pada titik mengkhawatirkan. Setelah beberapa tahun belakangan masyarakat Riau seakan terbebas oleh azab asap, tapi di musim kemarau 2019 ini “tamu yang tidak diundang” itu kembali datang. Mengoyak ketenteraman masyarakat, mencabik hari-hari ceria warga dengan udara yang bersih, dan menghambat begitu banyak aktivitas.

Sampai posisi Rabu (7/8/2019), pukul 18.00 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau merilis, dari awal Januari 2019, luas lahan yang terbakar di Riau sudah mencapai 4.676,82 hektare. "Bertambahnya luasan lahan terbakar itu disebabkan adanya kebakaran di sejumlah wilayah," kata Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger, sambil merinci lokasi karhutla dan luasan lahan yang dimamah api. 

Perinciannya: Rokan Hulu 2,25 hektare, Rokan Hilir 968,95 hektare, Dumai 304,75 haktare, Bengkalis 1.516,08 hektare, Meranti 252,7 hektare, Siak 596,4 hektare, Pekanbaru 89,71 hektare, Kampar 117,78 hektare, Pelalawan 201 hektare, Indragiri Hulu 106 hektare, Indragiri Hilir 516,1 hektare, dan Kuantan Singingi 5,1 hektare.

Akibatnya, antara lain, sejumlah warga di Riau terserang penyakit saluran pernapasan. Bahkan, dinas kesehatan mencatat dalam kurun waktu dua bulan ini, tidak kurang dari 13.627 warga Riau terserang penyakit ISPA yang diduga kuat akibat udara di Riau sudah terpapar kabut asap. Termasuk di antaranya, mungkin, Gubri Syamsuar seperti yang ia akui sendiri.

Kabut asap merupakan jenis polusi udara yang dihasilkan dari campuran beberapa gas dan partikel yang bereaksi dengan sinar matahari. Gas-gas yang terlibat dalam proses ini adalah karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO2), sulfur oksida (SO2), senyawa organik volatil (VOC), dan ozon. Sementara itu, partikel-partikel yang terdapat dalam kabut asap adalah asap itu sendiri, debu, pasir, dan serbuk sari.

Berikut efek jangka pendek akibat tinggal di lingkungan dengan kualitas udara yang buruk, seperti kabut asap. Yaitu susah bernapas dan kerusakan paru-paru, batuk dan iritasi tenggorokan, memperburuk gejala penyakit paru-paru, berdampak kepada fungsi jantung, buruk untuk mata, berisiko terkena kanker paru-paru, berdampak pada kulit, dan lainnya.

Kita mengapresiasi upaya pihak-pihak terkait dalam menangani kasus kabut asap akibat karhutla di Riau. Baik pemerintah pusat atau pun daerah, dan pihak-pihak lain yang peduli akan hal itu, telah menunjukkan kesungguhan yang tidak diragukan untuk menekan sedemikian rupa kasus kabut asap. Mereka dinilai telah melakukan yang terbaik untuk kepentingan daerah dan masyarakat Riau.

Kalau toh semua upaya itu belum membuahkan hasil maksimal, terbukti kabut asap masih tetap berada pada tingkatan yang mencemaskan, agaknya memerlukan penelaahan yang lebih mendalam dan komprehensif lagi; sehingga kemudian didapatkan kesimpulan tentang langkah-langkah lanjutan yang diperlukan, yang diharapkan akan mampu menekan kasus kabut asap sampai ke titik terendah.

Kita tentu tidak mengharapkan Gubri Syamsuar –atau siapa pun masyarakat Riau— ikut menanggung akibat dari perbuatan yang mungkin tidak pernah mereka lakukan. Lebih tidak diharapkan lagi nasib yang pernah menimpa Mukhlis melanda warga Riau lainnya, yaitu kehilangan anggota keluarganya, yang diduga kuat akibat kabut asap bersumber dari karhutla.***

 
 
Lainnya :
  • Antara ISPA Gubri dan Puteri Mukhlis
  •  
     
     
    Sabtu, 07-Desember-2019 | Jam Digital
    PEDOMAN MEDIA SIBER
    © 2015-2017 PEKANBARUSATU.COM, All Rights Reserved
    lace frontal wigscurly hair weave